Sebel vs Sensori Integrasi
Sebel, karena udah jam 12 malem lebih masih harus di depan kompie ngirim naskah. Sebel, karena pas ngirim internetnya lagi bolot. Sebel, karena udah sebel duluan sebelum kirim naskah :-p
Tapi lebih banyak senengnya kok hari ini
Senang karena bisa sukses juga akhirnya ngajak Pasha berenang. Selama ini udah sempat dua kali jajal berenang di komplek rumah di Depok, tapi belum maksimal (baca: masih agak bete). Berenang memang jadi salah satu ‘pe-er’-nya Pasha selama terapi, kata psikolognya siy buat ngelatih keseimbangannya dia. Senang juga hari ini karena bisa main sama ponakan gw yang lucuuuu banget, Hana. Lucu banget ngeliatin dia joget2 ngikutin gaya ‘monyet garuk ketek’ ala pakde don2 (diajarin yang enggak2 tuh sama misua, tapi Hana malah girang, hihi… asal jangan ada bakat jail kayak donny ajah… bisa gaswaatt) sementara Pasha teteup kekeuh cuek bergelimpangan di lantai :-p
Btw, proyek tahunan majalah Pita PInk udah mulai lagi, jadi minggu ini sempet meeting sama org2 yayasan kanker payudara jakarta. Yaa baru sekedar ngerembukin rubrikasi sama cover gitu2-lah. Mudah2an bisa lebih bagus dari taun lalu (cuma 3 minggu gitu ngerjainnya!) berhubung sekarang kan masih ada waktu sekitar 3 bulanan.
Sekarang gw juga masih konsen ngurusin terapinya Pasha. Setelah diobservasi sama psikolognya, terapi yang dirasa paling sesuai untuk dia adalah terapi sensori-integrasi. Terapi ini berfungsi untuk memperbaiki kemampuan otak dalam memproses informasi sensorinya. Masih bingung? Oke, sederhananya begini: misalnya kita mencicip rasa asam buah jeruk. Dari mana kita mengetahui apa yang kita cicipi itu adalah betul rasa jeruk? Dari informasi sensori (diantaranya indra pengecap dan peraba). Semua informasi sensori dan yang lainnya terintegrasi dan memberi petunjuk pada otak tentang buah apa yang saat itu sedang dimakan (jeruk).
Normalnya, informasi sensori ini berperan besar dalam perkembangan anak. Lumrahnya, seorang anak dapat merespon dengan baik dan senang saat bermain, misalnya (informasi sensori berperan besar di sini). Tapi tidak buat anak seperti Pasha, yang kata psikolognya itu, "sensori banget" karena ciri2nya yang jelas: tidak suka bermain, kurang suka bereksplorasi dan kreatif saat berada di lingkungan.
Misalnya, dia gak suka main bola (sama sekali gak mau nendang bola), gak suka lego (dan segala jenis mainan lainnya), memanjat (naik-turun tangga aja takut, maunya dituntun pakai dua tangan, kalau satu tangan kayak orang mabuk), gak mau masuk ke kolam renang (langsung ngaciirr), suka ragu-ragu dan takut untuk melangkah dari permukaan yang licin/lurus (aspal, misalnya) ke tekstur yang tidak rata (rumput, pasir, batu).
Pada anak seperti Pasha, bisa dibilang mekanisme protektifnya (sensori yang dirasanya asing) lebih dominan dibanding mekanisme diskriminatif (sensori yang dikenal). Itu menjelaskan kenapa selama ini dia bisa menjerit tidak senang saat dipaksa masuk kolam renang dan tampak ketakutan/kayak orang limbung kalau disuruh turun tangga
Selain juga gaya bermainnya yang cenderung monoton (bolak-balik buku dan lari tanpa tujuan ke sana ke mari).
Saat terapi pertama kali, dia masih bete. Mungkin karena suasananya agak ramai juga, jadi membuat dia tidak nyaman. Tapi lama-lama siy mau juga, setelah diajak ke luar sama terapisnya dan dibujuk untuk belajar turun tangga sendiri, menginjak rumput, jalan ke turunan yang enggak rata (dengan Bunda sebagai umpan di depannya, hehehe)
Alhamdulillah kemajuannya lumayan terlihat. Tadi di area kolam renang dia dengan gagah berani lari-lari di rumput, menginjak pasir di tempat ayunan, mulai mau ‘jalan’ sedikit-sedikit di dalam air, coba-coba melangkahi selokan kecil ke ubin yang lebih tinggi di depannya, walaupun makan waktu lebih dari 2 menit
Tapi gpp, Pasha yang pintar bisa sukses melangkahi selokan, sementara si ayah yang ikut-ikutan menyusul di belakangnya malah kehilangan keseimbangan dan sukses juga jatuh di rumput, huahehaha *terlalu heboh siy pingin nyusulin anaknya, kacian deh*
Yang belum kesampean dari pe-ernya cuma berkuda nih. Yup, betul, naik K-U-D-A. Kuda beneran, bukan komidi puter, bukan kuda2an yang digesek pake kartu Timezone :-p Gaya bener deh, bundanya aja blon pernah tuh naek kuda beneran, cuman dalem mimpi aja kalo abis baca Lima Sekawan yang berpetualang naik kuda
Katanya siy bagus buat melatih keseimbangannya dia (goyangan saat duduk di punggung kuda) dan perabanya (tekstur kuda yang licin dan berbulu). Pingin nyoba juga siy, katanya ada di Pulomas, kan deket tuh dari rumah ortu. Kayaknya pasti bakal menarik (ini anaknya apa bundanya yang excited siy? kayanya kl pertama kali dicoba pasti penuh teriakan ketakutan dan muka bete dari si Pasha, hihihi)
We’ll wait and see
June 4th, 2006 at 8:02 pm
wahhh…pasha tinggal di depok ya? dulu nathan juga tinggal di Mutiara depok. pasha dimana? senang mengetahui kemajuannya pasha :)) GBu
June 5th, 2006 at 1:42 am
di gema pesona mbak… wah deketan dong yaaa… sayang dah pindah, kl gak bisa maen bareng