That’s Why I Love Summer (Pt 2)
I saw dawn creep across the sky,
And all the gulls go flying by.
I saw the sea put on its dress
Of blue midsummer loveliness.
Excerpt from “A Summer Morning” poem by Rachel Field
Musim panas berarti sinar matahari yang hangat, nyanyian gembira burung-burung, cantiknya bunga-bunga bermekaran, harumnya wangi rumput, sejuknya es batangan rasa strawberry yang meleleh di lidah, kilaunya biru di laut serta hangatnya butiran pasir di sela-sela kaki dan cerahnya awan putih (“seperti baru saja dicuci” kata Anne dari Lima Sekawan karangan Enid Blyton) dan birunya langit yang mengintip di sela-sela pepohonan. Gak tau kenapa, gue selalu jadi romantis gak keruan begini kalau berhubungan dengan subyek yang satu ini.
Dulu waktu masih anak-anak, pas buka-buka buku Poems and Rhymes pasti nyarinya gak jauh-jauh, selalu sajak-sajak yang berhubungan dengan musim panas. Salah satu yang juga paling membekas di ingatan sebetulnya katalog musim panasnya Esprit dulu yang pernah gue dapet. Selain foto-foto di katalog itu yang menggambarkan suasana ‘summer banget’, ada foto-foto matahari terbit dan terbenam saat musim panas, dengan latar kata-kata yang sederhana tapi sudah mewakili semua hal yang ada di musim panas: popsicle, watermelon, sun, sea, sand, laughter, run, jump, smile, love, dream, warm, grass, meadow… Betul-betul bikin terpesona. It seems that all the beautiful words in the world were all written there. And just by reading them would made me daydreaming instantly J
Kenangan akan musim panas yang menyenangkan terjadi saat masa kanak-kanak gw di Belgia. Masih terbayang indahnya suasana menjelang musim panas, aroma liburan menguar di segala penjuru, rerumputan di taman di bawah apartemen tempat kita tinggal menghijau, semak-semak yang rimbun, sungai kecil di depannya bergemericik lincah. Gereja yang ada di sudut jalan pun seperti bernyanyi, mendentangkan loncengnya dengan riang. Pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi di depan pabrik bir Stella Artois (yang berada di seberang apartemen) melambai-lambai, dan rumah kecil di tikungan tampak segar dengan tanaman-tanaman di kebunnya. Taman-taman di tengah kota pun nampak berdandan cantik dengan bunga-bunga berwarna-warni. Biasanya, menjelang sore gw suka bersepeda di taman. Etalase toko-toko meriah dengan aksesori ceria, warna khas musim panas. Kalau winter identik dengan warna-warna gelap dan kelabu, maka summer sebaliknya. Topi-topi lebar dengan bunga warna-warni, gaun musim panas berwarna cerah melambai, bikini berbunga menghiasi manekin toko. Kalau libur musim panas, bokap juga suka ngajak pesiar jalan ke taman Tervuren di Brussel. Atau pernah ke kota-kota tetangga kayak Antwerp dan Brugge, pernah juga melancong sama keluarga-keluarga mahasiswa Indonesia yang lain ke Parisdan Amasterdam. Pokoknya, vakansi deh judulnya J
Kenangan indah tersebut meruap kembali saat menikmati lagu-lagunya Acid House Kings dan The Legends. “When I hear The Legends I can’t help think of lazy summer days in the shade. At the park with my friends, where does the time go,” komentar Richard, salah satu teman di MySpace. Can’t agree more better with you, man J