Jealousy

Well, I’m not really in the mood for long writing, but it’s funny to realize how jealousy and envy feeling can triggers you >:)

Btw, 18 Maret kemarin gue akhirnya nonton Kings of Convenience live. Gratis tis tis. Berkat kebaikan sobatku tersayang Ms Dian WS *muach, muach.. thanks a million, sis* Dan gilanya lagi, yang digratisin gak cuma gue doang, abang sama adek gue pun kecipratan, berhubung ibu sutradara kita ini lagi syuting jadi terpaksa gak bisa ikut, dan abang-adek gw-lah yang ketiban rejeki nomplok.

Sebetulnya, konsernya dah berlangsung dari sore, diawali White Shoes and The Couples Company sama Mocca yang jadi opening act. Kepingin juga sih liat dua band ini- they’re both good- sayang gak sempat, jadi kita datang pas Mocca dah bawain dua lagu terakhir. Vokal Arianna sama band-nya bagus, mainnya ‘clean’ banget. Terus jeda deh, nunggu lumayan lama. Oya, tempatnya di hotel Nikko, di semacam hall yang buat pesta2 kawinan gitu, agak terbatas-lah, makanya kapasitas maks 2000 orang. Itu aja dah penuh banget, ac-nya nyaris gak kerasa. Terus buat mencapai venue-nya, kudu naik tangga berapa lantai, baru naik lift- di lantai 8 kalo gak salah. Kebayang dong ntar pas bubaran gimana :-p

Setelah menunggu kira-kira hampir sejam kali ya- akhirnya duo asal Norwegia- sama ama A-ha, ama Sondre Lerche juga ya- muncul. Erlend Oye dan Eirik Glambek Boe. Erlend yang tipikal nerd anak sekolahan- rambut kriwil dan kacamata besar. Eirik yang manis dan bersuara lembut. Tapi jangan tertipu sama penampilan. Ternyata Erlend yang bertampang pelajar sejati, the boy with the funny glasses- mirip Opa, kata abang & adek gue- malah terkenal malas jika berhubungan dengan pelajaran. Meski ia punya memori yang luarbiasa jika disuruh mengingat detail yang dia baca dari buku, majalah, atau acara yang ditontonnya di TV :-p

Dan Eirik yang bertampang dan bersuara halus- ternyata penggemar olahraga panjat tebing dan karate :)) Buku-buku favorit yang dia baca berkisar tentang filosofi warnanya Goethe dan interpretasi mimpinya Jung. Dengan tampang yang cute- yang bikin cewek2 abg di depan panggung menjerit *menyebalkan*- Eirik tampak pemalu, sesekali mangajak penonton mengobrol dan tersenyum malu, gak seperti Erlend yang pede bercanda sambil memamerkan his funny dancing style-nya. Dan ternyata jika baca biografi mereka, si Eirik ini emang gak pede-an orangnya, dan siapa yang menyangka bahwa dia ternyata bisa menyanyi dengan bagus? Hingga kini, ia sendiri masih terkejut menyadari bahwa suaranya ternyata tak seburuk yang dikiranya :-p

They sound like… Simon and Garfunkel, exactly. Sampai penampilannya si Erlend yang kriwil juga mirip Art Garfunkel. Lirik-lirik dan melodinya pun sama simpelnya. Awalnya mereka memang hanya kumpul-kumpul sama teman musisi, sembari minum teh dan berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti: apa yang terjadi jika mereka bayar parkir penuh di taman tapi bukannya dipakai buat parkir mobil, malah digunakan untuk piknik di Sabtu pagi? Lalu apakah cewek berasal dari planet lain? (from www.kingsofconvenience.com). Wish life could be that simple :)

Oke, back to the live report. Penampilan duo Erlend-Eirik ini patut diacungi jempol. Mainnya bersih banget, dan kebetulan akustik ruangan juga bagus- mungkin kalo mainnya di stadium bakal lain ceritanya, ini hasil diskusi gw ama Hasief- pokoknya puas lah nontonnya. Erlend dan Eirik main gitar, bergantian main piano, menyanyi dengan dua suara- satunya jadi latar, persis kayak Simon & Garfunkel. Cuma satu hal yang agak mengganjal- based on egoism and jealousy juga siy- gue merasa musik-musik kayak gini kalo udah ditonton live kok entah gimana rasanya kurang pas. Mungkin karena gue selalu merasa musik-musik ‘kalem’ yang gue dengerin masuk ke kategori ‘private space’, bukan ‘public space’ kali ya. Kalo yang genjrang-genjreng sih, hayo aja rame2. Tapi kalo yang model begini, maunya sih dinikmati sendiri- atau paling enggak di kalangan terbatas aja. *Gak penting banget siy, sekalian aja mereka disuruh bikin private concert di kamar loe doang! LoL*

Tapi senang banget lah, dibayarin pulak, kapan lagi bisa begitu :-p Plus bisa reunian sama temen2 di RS: ketemu Manda, Hasief sama Probo. Ricky aja yang gak sempet ketemu.

Hmmm… kapan ya Acid House Kings bisa mampir ke sini? Atau Club 8?

"Do what you wanna do, say what you wanna say-ay

Come on and be my lad, come on and lead the way-ay…"

*Dreamy mood on*

Leave a Reply