stuck in a moment with dian sastro and agnes monica

Pusing…

padahal cuma harus nulis 4-5 lima baris tulisan kok pusing. Biasanya nulis sampai 6-7 halaman aja, hajar bleh. Masalahnya, harus nulis 4-5 baris tapi gak ada isinya *disgust*

By the way, this is the first time I write -no publish is the right word, because once I’ve written this piece, 200-something people from my Friendster’s list will receive this-so-called announcement that I’ve updated my blog, so please go and read- my thoughts on blog. It’s sort like allowing people to get a peek into my diary, which is scary. But, hell, for now I don’t give a sh*t.

Dibanding bengong2 di depan kompu gak jelas sambil merenungi 4-5 baris nonsense yang harus gue tulis? Sial. Apaan sih… tadi malam gue sama Probo (our beloved photographer) datang ke acara finalis gadis sampul 2005, di balai Sarbini. And you know what? Tons of teen girls who dressed a-like (vintage is the theme) each other, with must-wear accessories at the moment- the long pearl necklace- are everywhere. Nah, dari sanalah tugas membikin 4-5 kata ini berasal. Sebetulnya cuma buat ngisi Random Notes, rubrik ‘top-pop’, ‘basa-basi’, ‘a little bit infotainment -not THAT word, yuks- yang seringkali kekurangan bahan gara-gara foto-foto dari AS gak available. Screw you, capitalist!

Dan itu berarti gue dan si Probz -yang mesti memotret beberapa selebs di sana- harus bertahan mendengar teriakan memekakkan-membahana-membuat tuli- telinga dari abg2 yang sudah berdandan modis-cantik-ceria itu. Okay. Setelah acara yang ngaret satu jam, penonton (well, tepatnya gue) disiksa dengan lagu-lagu R&B yang brisiknya minta ampun, berdentam-dentam, jedung-jedung- seolah menghantam jantung gue (I’m beginning a little bit dramatic here)- gue berusaha meredamnya dengan mp3 player gue (luv you ayah!) di mana Manic Street Preachers melengkingkan "La Tristesse Durerra (Scream to A Sigh)"-my favourite!- dengan sia-sia. Toh, tetap aja si jedang-jedung itu sukses menyelusup ke kuping gue. Sial betul. Betul-betul merusak melodi indah penuh semangat yang diteriakkan James Dean Bradfield dengan vokal khasnya- suara meletup-letup frustasi. Pokoknya begitulah. Akhirnya, dengan penerangan lampu sedikit warung remang-remang, gue duduk di bagian wartawan- gak ada yang gue kenal- sementara Probo turun ke bawah hunting spot buat foto. Luckily I”ve brought my book. Dengan jedang-jedung menghantam jantung campur lengkingan James, gue berusaha konsen membaca "All American Girl"-nya Meg Cabot (luv this book, lucu dan menghibur, si Sam-nya goblok berat!).

Begitu acara mulai, praktis gue gak bisa konsen. MC Nirina & Indra Bekti serta-merta mengoceh ramai- suka kesian juga liat mereka, kayanya terpaksa ngoceh kepanjangan demi menutupi sequence pergantian pengisi acara ato nungguin para finalisnya tampil. Yang jelas background panggungnya miskin, cuma ada papan gak terlalu gede berisi coret-coretan grafitti… terus mana vintage-nya nih? Pertanyaan itu terjawab begitu dancer2 masuk dengan kostum warna-warni menyolok mata- blus-blus ungu, merah, kuning, hijau, oranye, biru jentreng mengkilat- ceweknya pakai rok lebar, cowok-cowoknya dengan kemeja dilinting- gak jelas vintage-nya dari mana, tapi mungkin maksudnya meniru adegan film Grease atau sejenisnya. Entahlah. Mungkin gue yang buta mode kali ya- LoL

Akhirnya tampilah ke-20 finalis gadis sampul- wuihhh imut banget ya, masih ada yang umur 12-13 taunan gitu- dan lucu aja ngeliat wajah mereka masih polos, meski di balik make-up dan dandanan meriah. Gaya mereka yang masih malu-malu, bahkan beberapa tampak kepingin buru-buru lari ke belakang saat harus bergaya ala peragawati di atas panggung :p   Beberapa bulan lagi, mungkin mereka sudah bisa melenggang bak peragawati profesional, who knows?

Lucu juga, dulu waktu gue seumuran mereka, senang juga ngikutin acara-acara gadis sampul walaupun cuma baca dari majalah. Senang membayangkan bisa ikut karantina dan dapetin berbagai hadiah, pakai baju-baju modis dan bagus, dan voila! pintu menuju ketenaran ada di depan mata. Tapi malam itu, ketika gue bisa menyaksikannya dari kacamata umur gue yang sekarang (gue dulu sempat kepingin juga nonton gadis sampul, kayaknya happening banget sih pas jaman gue abg akhir tahun ‘80-an dan ironisnya setelah sekarang dapat kesempatan nonton gratis karena kerjaan gue, gue malah cabut di tengah-tengah acara karena bosan), gue baru bisa melihat bahwa acara-acara kayak begini ya cuma sekedar komoditas aja. Pendeknya, ya semua dikomodifikasikan. Sosok lugu dan imut-imut siap dikomoditikan untuk jadi bintang. Ya enggak ada yang salah juga dengan itu. Tapi ya ternyata ajang yang dulu bikin gue sempat terkagum-kagum tahunya gak beda dengan kontes miss2-an atau pageant atau apalah. Yang penting cantik. Yang diutamakan fisik. Titik. Ya sudahlah *pasrah* Yang penting sekarang bagaimana mengarang 4-5 kalimat nonsens tentang keiutksertaan Dian Sastro sebagai juri gadsam dan penampilan Agnes Monica yang kini tambah sensual. Puhleaseeeeeeee…………..            

Leave a Reply