Idola
May 2nd, 2008 by hersintaWe all need an idol for something to look up to. Karena pada dasarnya, manusia punya kebutuhan untuk selalu membandingkan diri. Dengan idola, ibaratnya kita memiliki looking glass self untuk melihat sejauh mana pencapaian yang telah diraih.
Kalau mengacu sama penjelasan ‘idol’ di atas, berarti ajang American Idol atau Indonesian Idol memang hiperbolik… menggeneralisir seseorang untuk jadi idola sebuah bangsa, negara bahkan dunia
Because we have our own criteria for an idol, and that might be more than just amazing voice and good looks :-p
Dulu, waktu masih kecil (playgrup atau TK deh) yang namanya idola bagi kita mungkin cukup simpel, gak neko-neko. Mengidolakan kakak, sepupu, tante atau oom yang cantik-dewasa-ganteng sih oke-oke aja. Kayak gue dulu, yang mengidolakan bukan siapa-siapa tapi tetangga deket rumah, namanya mbak Wulan. Jaman gue baru masuk SD, si mbak ini udah kelas 6 SD. Anaknya manis-ayu ala perempuan Jawa, ramah sama anak kecil (gak bossy kayak beberapa orang yang gw kenal waktu itu), punya Barbie banyak, dan yang paling penting… gak pelit minjemin Barbienya! Itu yang menjadikannya idola di mata gue
Pas SD, begitu dah hobi baca majalah dan buku (secara tipinya cuman TVRI doang, paling yang bisa diidolain cuma Melissa Gilbert yang jadi Laura Ingalls di serial Little House), idola gw berganti: Coreng si Kelinci adeknya Bobo. Coreng itu cool banget, pinter gambar, tapi juga manis-feminin dengan kostum pink-nya. 
Sempet juga sih kepingin mengidolakan Nirmala temennya Okky dari Negeri Ajaib (di Bobo juga) tapi doi terlalu feminin dengan ballgown pink dan rangkaian bunga-bunga biru di kepala. Kurang asyik
Begitu kelas 4 SD, ganti idola. Malu dong, masak ngisi buku kenangan
(dulu jamannya album kenangan tuh, lengkap dengan data profil pribadi,
foto, moto, dll) pas di kolom idola, idolanya kelenciii??? Dan
berhubung lagi ngefans2nya sama Lima Sekawannya Enid Blyton, jadilah
idola baru gue: Georgina (alias George karena doi benci banget
dipanggil Georgina) Kirrin. George was the perfect type kind of girl you would like to be. She’s very boyish, headstrong (alias keras kepala, gw banget dah!) and brave. 
Wah pokoknya top banget deh.Sempet ikutan potong rambut papas pendek kayak si George, kemana-mana bawaannya pake kaos sama celana pendek doang, huahehaha… Terus berlagak jadi detektif juga, ikut2an berkemah, piknik dan melancong naik sepeda ala Lima Sekawan (bareng tetangga2 temen main, dan kemahnya cuma di depan rumah plus ‘melancong’ bersepeda keliling komplek dan kampus UI rawamangun :-p
Pas masuk SMP, lagi hobi-hobinya dengerin musik barat. Waktu itu silih berganti
idolanya, mulai dari John Taylornya Duran2 (kemarin gak nonton konsernya, hiksss abis muahaallll), Morten Harket-nya A-ha, sampe Neil Tennant-nya Pet Shop Boys. Kok laki semua ya? Ada juga sih perempuan yang jadi idola. Diantaranya Karen dari Bananarama (lupa nama belakangnya) sama ada satu cewek cantik namanya Amanda dari serial film Dynasty (ceritanya udah beranjak dewasa nih, nontonnya bukan Little House lagi tapi Dynasty). Dulu saking ngefansnya sampai gunting2 gambarnya dari majalah. Heboh deh, hehehe..
Jaman SMA, lain lagi. Pas lagi doyan2nya dengerin musik metal :-p Bisa ditebak kan, deretan idola2 gw gak jauh dari personil2 hair metal band kayak Sebastian Bach-nya Skid Row (kmrn grupnya konser di sini, tapi minus si Bach dan yang lain)- dengan rambut silky-straight ala gadis sunsilk, tampang keren dan lengkingan vokal yang dahsyat, who can resist him to be an icon? :-p
(Bbrp bulan lalu, sempet liat doi jadi guest presenter di VH1, bawain "100 greatest rock songs", and man, I swear he still looked great as ever, despite a few lines that couldn’t be covered with a concealer). Terus ada Mike Patton dari Faith No More dengan suara yang khas dan penampilan cueknya.
Namun semuanya sirna begitu Robert Smith (aka ‘Aa Obet’) masuk ke dalam kehidupan gue (gayaaa bener, huaheha). Sosok si Aa Obet yang nyentrik (kalau gak bisa dibilang aneh) dengan rambut sasak jigrak plus makeup yang androgini, baju seragam hitam kebangsaan dan lirik lagu yang puitis-sedih-tapi jauh dari cengeng (ini patut digarisbawahi dan di-bold) match banget dengan mood saat itu yang lagi rebel-rebelnya (konflik sama ortu, pokoknya pas jiwa muda berontak deh, hihihi). It seemed that he understood me completely and knew exactly what I’ve been looking for, being a stranger in nowhere land, feeling that nobody could understand me, except Mr Smith & co :-p
Proses pengidolaan Aa Obet ini berlangsung
cukup lama, dari jaman SMA hingga lulus universitas, suara si idola beserta bandnya, The Cure selalu setia menemani (sampai2 org rumah dan supir gw waktu itu, Baedi, apal mati kayanya sama lagu2nya The Cure, huahehaha).
Sayang, kemarin pas The Cure manggung di Singapore, gue gak bisa nonton. Bukannya apa2, muahalll… belum ditambah tiket pesawat pp sama fiskal. Wah, bisa bayar terapinya Pasha buat sebulan :-p
Lagipula, ‘masa’-nya si Aa Obet sudah habis juga. Berhubung hidup sudah lebih stabil (kerja, merit, punya anak) sekarang nyaris gak ada idola-idolaan lagi :-p Tapi berhubung cinta musik dan tiada hari tanpa musik, ya masih ada tempat buat idol-idol-an di musik. Kalau sempat menengok kolom ‘who you want to meet’ di FS atau kolom sejenis di MySpace gue (sekarang udah gak jaman lagi album kenangan, langsung social network sites gituuu) pasti masih ada nama si Aa Obet, dan satu nama lagi, yaitu Johan Angergard. Tentang si Johan ini udah sering gue bahas di posting2 lalu, reviews, etc (salah satunya ada di sini http://www.detikinet.com/index.php/detik.read/
tahun/2008/bulan/01/tgl/02/time/121632/idnews/
873607/idkanal/398). Pokoknya tiap hari tanpa lagunya si Johan :-p Dan senangnya, dengan ‘idola’ kali ini, gw bisa lebih dekat (secara real maksudnya). Bisa email-emailan, sms-an, interview… hal-hal yang selama ini cuma ada di impian

For me now, an idol does not mean someone (or something) that you worshipped and adored blindly and excessively. An idol is just a human being, someone that you adore, respect, for something that he/she had done. And that could be anyone


